Hayo Pe Golek Opo wis

Loading...

Pembelajaran Bahasa Arab MI


Pembelajaran Bahasa Arab MI

1.1.            Pengertian Pembelajaran Istima’  

Istima’adalah proses menerima sekumpulan fitur bunyi yang terkandung dalam kosakata, atau kalimat yang memiliki makna terkait dengan kata sebelumnya, dalam sebuah topik tertentu.Istima juga dapat diartikan yaitu memahami berbagai nuansa makna ragam teks lisan dengan ragam variasi tujuan komunikasi dan konteks.[1]



1.2.            Tujuan Pembelajaran Istima’

Dalam pembelajaran bahasa, komponen istima’ sangat diperlukan, karena istima’ adalah memahami informasi lisan melalui kegiatan dalam bentuk paparan atau dialog.

Tujuan pembelajaran istima’ adalah melatih peserta didik untuk memahami bahasa lisan. Melalui istima’,kita dapat mengenal mufradat, bentuk-bentuk jumlah dan taraakib serta kita juga dapat menguasai keterampilan yang lain yaitu kalam, qiraah, kitabah.[2] Apabila peserta didik tidak mempunyai kemampuan istima’ yang efektif akan salah memahami dan menafsirkan informasi, akibatnnya peserta didik akan memperoleh pengetahuan yang salah.

1.3.            Teknik dan strategi  pembelajaran Istima’

Berikut  adalah beberapa contoh teknik dan strategi pembelajaran istima’:

Guru memilih percakapan yang sesuai dengan tingkat kebahasaan dan jenjang siswa serta bisa menarik perhatian mereka dan menyenangkan mereka kemudian dibacakan atau diceritakan kepada mereka, setelah siswa mendengarkan dengan baik kemudian diajukan beberapa pertanyaan yang memuat inti cerita atau pikiran pokoknya.
Guru menyampaikan cerita yang cocok dan mudah bagi siswa, setelah itu mereka diminta secara bergantian untuk menceritakan ulang dengan tidak memperketat penggunaan bahasa yang benar.
Guru malatih seorang siswa untuk mendengarkan cerita pendek diluar kelas dan melatih siswa untuk menceritakan ulang dihadapan teman-temannya didalam kelas. Setelah itu guru melanjutkan pembelajaran yang berisi tentang cerita yang telah didengar tadi.
Guru juga bisa memberikan pengarahantanpa pengulangan didalam kelas kemudian meminta sebagian siswa untuk mengulanginya secara lisan sedang siswa yang lain diminta untuk mempraktekannya.
Guru juga bisa mengajar istima’ dengan bermain peran ( roll playing ). Contoh , dengan mengadakan penampilan dua siswa yang satu berperan sebagai tamu yang ingin berbicara dengan salah satu temannya didalam kelas sedangkan yang lain memerankan seorang guru. Kemudian tamu itu menjelaskan temannya yang dicari dengan mengutarakan ciri-cirinya. Ketika salah satu orang siswa ada yang bisa menebak siswa yang dicari sebelum guru tahu maka dia mengambil perannya didalam permainan ini.
Guru menyampaikan pesan penting kepada para siswa, dengan cara membisikkan kepada satu siswa untuk disampaikan kepada teman disampingnya dan begitu seterusnya sampai siwa terakhir , kemudian guru mengulangi dengan suara keras.
Guru membacakan satu tema pendek dan mudah setelah itu guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab siswa secara lisan tanpa membetulkan jika jawaban salah. Kemudian guru mengulangi bacaannya tentang tema awal agar siswa mengingat kembali jawaban mereka dan bisa mengoreksinya.
Guru menyampaikan satu kata atau dua kata yang tidak cocok dalam sebuah kalimat atau dalam susunannya ,kemudian bertanya kepada siswa tentang pendapat mereka mengenai materi yang telah mereka dengar.
Guru bisa memberi latiha istima’ dengan memperbanyak pertanyaan –pertanyaan secara lisan yang menuntut jawaban panjang.
Guru bisa dengan menampilkan percakapan tentang situasi tertentu ,hikayat,anekdot,lagu-lagu,musik dan lain-lainnya, yang bisa menumbuhkan keterampilan istima’
1.4.            Langkah-langkah pembelajaran Istima’

Adapun langkah-langkah pembelajaran istima’ adalah sebagai berikut:

a.      Membuka pelajaran istima’. Dalam pembukaan guru menyampaikan tentang pentingnya istima’ dan menyampaikan karakter materi yang akan disampaikan kepada siswa serta membatasi tujuan yang hendak dicapai dan menjelaskan keterampilan yang ingin dikembangkan.
Menyampaikan  materi pelajaran memakai metode yang sesuai dengan tujuan .
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi pelajaran yang telah didengar. Jika ada kata-kata yang belum jelas guru harus menjelaskan.
Siswa mendiskusikan materi yang telah dibacakan dan diakhiri dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan yang dimaksud.
Menyuruh siswa membuat ringkasan apa yang telah dikatakan dan memberikan penguatan secara lisan kepada teman-teman siswa.
Mengevaluasi pencapaian siswa dengan cara memberikan beberapa pertanyaan secara mendalam.
Pembelajaran Kalam
2.1.            Pengertian Pembelajaran Kalam

Kalam atau berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan , menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan secara lisan.

2.2.            Tujuan Pembelajaran Kalam

Berbicara dengan bahasa asing merupakan keterampilan dasar yang menjadi tujuan dari beberapa tujuan pengajaran bahasa . Sebagaimana bicara adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Kompetensi dalam pembelajaran kalam:

Siswa mampu mengeluarkan bunyi arab dari mahrajnya yang benar.
Siswa bisa membedakan ucapan antara harakat panjang dan pendek.
Memperhatikan intonasi dalam berbicara.
Mampu mengungkapkan ide dan pemikiran dengan bahasa yang mudah dipahami
2.3.            Model Pembelajaran Kalam

a)      Model Latihan Lisan[3]

Model dialog
Model dialog adalah latihan meniru dan menghafalkan doalog-dialog tentang berbagai macam situasi dan kesempatan. Melalui latihan ini pelajar diharapkan dapat mencapai kemahiran yang baik dalam percakapan yang dilakukan secara wajar dan tidak dibuat-buat. Ungkapan yang harus diperkenalkan adalah seperti ucapan selamat,contohnya selamat pagi,selamat siang,selamat malam.

Pola Kalimat
Latihan ini terdiri dari pengungkapan pola-pola kalimat yang harus diulang-ulangsecara lisan dengan berbagai cara, secara garis besar ,pengulangan ucapan pola kalimat terdiri dari tiga unsure yaitu,namudzaj (model),talmih(cue call word),dan istijabah(pemberian respon). Seorang guru mengucapkan pola kalimat bisa juga melalui kaset yang dimasukkan kedalam alat perek am,dalam hal ini pola kalimat yang menjadi contoh latihan dibuat dan diucapkan oleh guru.lalu guru mengucapkan sebuah cue sebuah pecentus idea atau instruksi pendek sebagai petunjuk untuk membuat model seperti itu dihadapan siswa,setelah guru mengucapakn kalimat atau direkam kaset rekaman  untuk memberi kalimat model,latihan pengucapan sudah dapat dilakukan.

Look and Say Exercises
Model  ini menekankan pada latihan melihat dan mengucapkan,sebagai ganti alat rekaman dapat digunakan kartu bergambar atau bagan-bagan didinding untuk merangsang murid bercakap-cakap.

2.4.            Langkah-langkah Pembelajaran Kalam

Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan guru dalam proses pembelajaran kalam adalah sebagai berikut:

Bagi pembelajar pemula
1)      Guru mulai melatih bicara dengan memberi pertanyaan –pertanyaan yang harus dijawaboleh siswa.

2)      Pada saat yang bersamaan siswa diminta untuk belajar mengucapkan kata, menyusun kalimat dan mengungkapan pikiran.

3)      Guru mengurutkan pertanyaan –pertanyaan yang dijawab oleh siswa sehingga berakhir membentuk sebuah tema yang sempurna

4)      Guru bisa menyuruh siswa menjawab latihan-latihan syafawiyah, menghafal percakapan,atau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi teks yang telah siswa baca.

Bagi pembelajar lanjutan
1)      Belajar berbicara dengan bermain peran

2)      Berdiskusi tentang tema tertentu

3)      Bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada siswa

4)      Bercerita tentang informasi yang telah didengar dari televisi,radio,atau lain-lainnya.

Bagi pembelajar tingkat atas
1)      Guru memilihkan tema untuk berlatih kalam

2)      Tema yang dipilih hendaknya menarik berhubungan dengan kehidupan siswa

3)      Tema harus jelas dan terbatas

4)      Mempersilakan siswa memilih dua tema atau lebih sampai akhirnya siswa bebasmemilih tema yang dibicarakan tentang apa yang mereka ketahui.[4]

Beberapa petunjuk umum berkenaan dengan pembelajaran kalam,yaitu sebagaimana berikut:

1)      Belajar kalam yakni berlatih berbicara

2)      Hendaknya siswa mengungkapkan tentang pengalaman mereka

3)      Melatih memusatkan perhatian

4)      Tidak memutus percakapan dan sering membenarkan

5)      Bertahap

6)      Kebermaknaan tema ,siswa akan lebih termotivasi untuk berbicara jika temanya berhubungan dengan hal yang bernilai dalam kehidupan mereka.

Pembelajaran Qiro’ah
3.1.            Pengertian Pembelajaran Qiro’ah

Membaca (qira’ah) merupakan keterampilan menangkap makna dalamsimbol-simbol bunyi tertulis yang terorganisir menurut sistem tertentu atau membaca nyaring bermakna dan memahami berbagai nuansa makna yang dijumpai dalam teks tertulis dengan variasi tujuan komunikasi struktur kalimat dan ciri-ciri bahasanya.[5]



3.2.            Tujuan Pembelajaran Qiroah

Membaca merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa ,lebih-lebih bagi pembelajar bahasa arab non arabdan tinggal diluar negara-negara arab seperti para pembelajar di Indonesia.

Tujuan pembelajaran Qira’ah :

Mengucapkan bunyi dari makhrajnya serta membedakan bunyi huruf yang mirip.
Menghubungkan tanda dengan makna.
Memahami apa yang dibaca .
Memperhatikan harakat panjang pendek.
Berhenti pada tempat yang sesuai.
Tidak mengulang-ulang kata pada saat membaca.[6]
3.3.            Metode Pembelajaran Qiro’ah

Metode pembelajaran qiro’ah jika menggunakan metode nahwu wa tarjamah maka secara ringkas langkah-langkah pembelajaran membaca dapat dijelaskan sebagai berikut:

Guru memulai pelajaran dengan membacakan teks bahasa arab
Kemudian guru menerjemahkan teks terhadap bahasa siswa
Pelajaran dilanjutkan dengan penjelasan dari guru
Terakhir siswa mengulang bacaan yang telah dipelajari
Namun berbeda jika menggunakan metode lain yang memperhatikan keterampilan lain. Maka pelajaran dimulai dengan mengajukan seperangkat mufrodat dan tarkib dalam konteks tertentu , dilanjutkan dengan berlatih menuturkan ,setelah siswa mendengarkan itu semua kemudian siswa belajar mufradat dengan membaca. Bisa dilihat seperti langkah-langkah berikut:

Guru membacakan beberapa kalimat dan jumlah disertai penjelasan maknanya (dengan menggunakan gambar,isyarah,gerakan,peragaan,dll). Setelah siswa paham kemudian guru menggunakan kalimat atau jumlah dalam kominikasi praktis.
Guru menyuruh siswa membuka buku dan membacakan kalimat dan jumlah sekali lagi dan meminta siswa untuk mengulang lagi.
Siswa mengulangi kalimat dan jumlah secara bersama-sam ,kemudian kelas dibagi dua atau tiga kelompok ,setiap kelompok diminta untuk mengulang-ulang sampai akhirnya guru memilih siswa secara acak dan diikuti oleh siswa lainnya.
Setelah siswa memahami kalimat dan jumlah,guru menampilkan teks sederhana dan menyuruh siswa membaca dalam hati dalam waktu yang cukup.
Setelah guru merasa bahwa siswa secara umum telah selesai membaca guru meminta siswa menghadap ke depan dan membiarkan buku tetap terbuka.
Sebaliknya guru tidak memberi toleran waktu bagi yang belum selesai dan membiarkan mereka mengulangi teks pada waktu tanya jawab. Ini mendorong siswa untuk membaca cepat.
Guru mengajukan pertanyaan seputar teks dan buku tetap terbuka karena guru tidak menguji hafalan siswa serta guru mempersilakan siswa mencari jawaban dalam teks.
Sebaiknya pertanyaan urut berdasarkan jawaban dalam teks sehingga dapat diketahui sampai batas mana.
Hendaknya pertanyaan –pertanyaan yang membutuhkan jawaban pendek.
Jika salah satu siswa tidak bisa menjawab pertanyaan hendaknya pertanyaan itu diberikan kepada siswa yang lain.
Memotivasi siswa untuk menjawab pertanyaan
Sebaiknya guru mem berhentikan pertanyaan yang sekirannya membuat perhatian siswa melemah, waktu yang ideal untuk Tanya jawab sekitar 20 sampai 25 menit.
Setelah itu siswa mengulangi lagi bacaan dengan membaca dalam hati,atau menyuruh siswa yang bagus bacaannya untuk membaca dengan keras dan ditirukan oleh siswa yang lainnya.
Terakhir mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang jawabannya ada dalam teks untuk dijawab oleh teman-temannya.
Pembelajaran Kitabah
4.1.            Pengertian Pembelajaran Kitabah

Kitabah(menulis) merupakan keterampilan berbahasa yang rumit,karenanya keterampilan ini harus diurutkan setelah periode pelajaran yangmenekankan pada bunyi (marhalah shawtiyyah)[7].Marhalah tersebut lebih terfokuspada aspek menyimak dan bicara.Kitabah sering difahami hanya sebatasmengkopi (naskh) dan mengeja (tahajju’ah, namun kitabah sebenarnya jugamencakup beragam proses kognitif untuk mengungkap apa yang diinginkanseseorang. Dengan demikian keterampilan ini merupakan latihan mengatur ide-ide dan pengetahuan lalu menyampaikan dalam bentuk simbol- simbol huruf.Akan tetapi bagaimana pelajaran kitabah itu sebenarnya adalah tergantung padabagaimana pula situasi dan kondisi belajar atau peserta didiknya.

4.2.            Tujuan Pembelajaran Kitabah

Pembelajaran menulis terpusat pada tiga hal yaitu:

Kemampuan menulis dengan tulisan yang benar
Memperbaiki khoth
Kemampuan mengucapkan pikiran secara jelas dan detail
4.3.            Langkah-langkah Pembelajaran Kitabah

Terdapat beberapa petunjuk umum berkaitan dengan menulis yaitu,

a)      Memperjelas materi yang dipelajari siswa ,maksudnya tidak menyuruh siswa menulis sebelum siswa mendengarkan dengan baik,mampu membedakan pengucapannya dan telah kenal bacaan.

b)      Memberitahukan tujuan pembelajarannya kepada siswa

c)      Memulai mengajarkan menulis dengan waktu yang cukup

d)     Asas bertahap dari yang sederhana berlanjut ke yang rumit,contoh pelajaran dimulai dengan:

Menyalin huruf
Menyalin kata
Menulis kalimat sederhana
Menulis sebagian kalimat yang ada dalam teks atau percakapan
Menulis jawaban atas pertanyaan –pertanyaan
Imlak
Mengarang terarah
Mengarang bebas
e)      Kebebasan menulis

f)       Pembelajaran khath

g)      Pembelajaran imla

Untuk mengetahui masing-masing tingkatan dalam menulis mulai dari imla’ sampai ta’bir akan dibahas dibawah ini:

Pembelajaran imla’
Imla’ manqul
Pembelajaran menulis tingkat awal ini bertujuan untuk memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis huruf,kata dalam bahasa arab.

Pada tingkat ini tidak hanya terfokus pada cara penulisan huruf tetapi diikuti juga latihan lain seperti tarkib dan qawaid yang juga dipelajari kalam dan qira’ah.

Latihan yang digunakan pada imla’ ini adalah :[8]

ü  Memberikan pertanyaan –pertanyaan yang jawabannya diambilkan darin teks bacaan.

ü  Memberikan beberapa kata yang tidak urut dan meminta siswa untuk mengurutkan sehingga menjadi kalimat yang sempurna.

ü  Menyalin teks pendek yang isinya berhubungan menyenangkan siswa.

ü  Latihan merubah kalimat.

Imla’ mandhur
Pada tingkat ini guru memberikan latihan sebagai berikut:[9]

ü  Guru meminta siswa untuk menyiapkan teks tertentu yang ditentukan oleh guru dan siswa membacanya dirumah setelah disekolah didiskusikan dengan guru tentang kata-kata yang sulit membacannya dan guru menjelaskan cara penulisannya.

ü  Siswa diminta untuk menghafal teks pendek dan sederhana kemudian mengeja kata-katanya,lalu siswa diminta untuk menuliskannya.

ü  Meminta siswa menulis kalimat yang telah dipelajari dalam imla’ manqul tanpa melihat kembali pada buku dan membandingkan dalam imla mandhur dengan  tulisan pada imla’ manqul dari sisi kebenaran tulisannya.

ü  Siswa diminta untuk menyempurnakan kalimat yang pernah dipelajari atau mengisi kalimat yang rumpang.

ü   Guru member pertanyaan yang jawabannya satu kalimat dan dua kalimat.

ü  Guru menuliskan kata-kata sulit pada papan tulis ,lalu siswa menulis pada buku tulis.

Imla’ ikhtibariy
Pada imla’ ini guru memperhatikan hal-hal berikut:

ü  Guru membaca teks dengan kecepatan sedang

ü  Mendiktekan teks dengan kecepatan yang rata.

ü  Hendaknya guru membuat penggalan kalimat yang bermakna dalam mendiktekannya.

ü  Gueu mengucapkan satu penggalan sekali dan siswa menulisnya dalam buku

ü  Guru diharapkan tidak mengulangi bacaan

ü  Guru memperhatikan siswa sambil mendikte.

ü  Guru memberi waktu siswa untuk mengoreksi tulisannya.

ü  Bagi siswa yang tidak menemui kesulitan dalam istima’ maka diberikan latihan yang lebih sulit agar termotivasi untuk belajar.

Pembelajaran ta’bir
Pembelajaran ini dibagi menjadi dua yaitu:[10]

Tabir muwajjah( terbimbing )
Latihan pada tingkat ini adalah:

ü  Dimulai dengan latihan menyempurnakan kalimat.

ü  Mengganti bagian kalimat dengan mengganti bagian kalimat dengan ungkapan-ungkapan yang bisa member makna lain pada kalimat.

ü  Siswa diberi kalimat pendek dan sederhana kemudian diminta untuk memanjangkan dengan kata-kata baru.

ü  Mengajukan beberapa kata yang tidak bolehdiulang untuk membentuk kalimat tetapi harus ditambah dengan satu kata atau dua kata sehingga menjadi kalimat yang sempurna.

ü  Menampilkan kalimat-kalimat dan diubah salah satu katanya sehingga menuntut untuk mengubah kata yang lain.

ü  Bisa juga dengan mengkhususkan latihan dengan memakai bentuk –bentuk waktu fiil.

ü  Bisa dengan menggunakan pertanyaan yang harus dijawab  siswa dengan apa yang didengar atau telah dibaca dengan bentuk jawaban tertulis.

ü  Bisa dipindah dalam bentuk paragraph dengan merubah fiilnya dari fiil madhi ke mudhari’ atau isimnya.

ü  Atau juga bisa berlatih dengan menggunakan kerangka karangan seperti menggunakan urutan pertanyaan –pertanyaan yang jawabannya secara urut akan membentuk paragraph atau cerita.

ü  Bisa juga dengan menggunakan latihan dengan meringkas bacaan atau teme-tema dalam buku bacaan.

ü  Menyempurnakan kalimat dengan penjelasan

ü  Menggunakan media pembelajaran seperti kartu bergambar,lukisan dll.

ü  Latihan menjelaskan keadaan tertentu contoh:cara menghadapi guru,

ü  Bisa juga mengacu pada kegiatan seperti bermain,rekreasi.

Ta’bir hurt( menulis bebas)
Tingkatan ini adalah tingkatan terakhir dalam menulis. Pada tingkat ini siswa diberi kesempatan untuk memilih tema dan mengembangkan pikiran-pikirannya,pemggunaan mufrodat atau tarkib pada tulisannya,akan tetapi bukan berarti siswa lepas dari bimbingan dan bantuan guru atau pada tingkat ini diharapkan siswa dapat berkreasi dengan tulisannya.

2 comments: